Isnin, 10 Mei 2010

FORMAT LAPORAN PENCAPAIAN j-QAF 2010


FORMAT LAPORAN PENCAPAIAN j-QAF 2010 Terbaru!

Berikut antara bahan untuk kegunaan Format Laporan Pencapaian j-QAF 2010 :

a. Al-Quran 6 Bulan Tahun Satu.
b. Jawi ( Tahun 1 - 6 ).
c. Bahasa Arab ( Borang Skala Kadar Tahun 1 - 2)
d. Bahasa Arab ( Soalan Tahun 3 - 6 ).
e. Modul Latih Tubi Bahasa Arab ( Tahun 5 & 6 )

Sila download nombor yang terahir :
1.KOLEKSI SOALAN FORMAT LAPORAN PENCAPAIAN j-qaf 2010

( Ada ralat soalan bahasa arab tahun 5 & 6 )

2.KOLEKSI SOALAN FORMAT LAPORAN PENCAPAIAN j-qaf 2010
Terbaru!

* Makluman, Format Laporan Pencapaian j-QAF akan menyusul. Insya-Allah.

Read more: http://e-laporan.blogspot.com/2010/05/format-laporan-pencapaian-j-qaf-2010.html#ixzz0nWyQqxlm

MISTERI TEMBOK YAKJUJ DAN MAKJUJ


Misteri Tembok Yakjuj dan Makjuj

http://www.voa-islam.com/timthumb.php?src=/photos/Bataku/Gunung_tembokbesar.jpg&h=235&w=355&zc=1
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَى أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا
“Mereka berkata; “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya-juj dan Ma-juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”.” (QS. Al-Kahfi: 94)
حَتَّى إِذَا فُتِحَتْ يَأْجُوجُ وَمَأْجُوجُ وَهُمْ مِنْ كُلِّ حَدَبٍ يَنْسِلُونَ وَاقْتَرَبَ الْوَعْدُ الْحَقُّ فَإِذَا هِيَ شَاخِصَةٌ أَبْصَارُ الَّذِينَ كَفَرُوا يَا وَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِي غَفْلَةٍ مِنْ هَذَا بَلْ كُنَّا ظَالِمِينَ
“Hingga apabila dibukakan (tembok) Ya-juj dan Ma-juj, dan mereka turun dengan cepat dari seluruh tempat yang tinggi. Dan telah dekatlah kedatangan janji yang benar (Hari berbangkit), maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang yang kafir. (Mereka berkata); “Aduhai celakalah kami, sesungguhnya kami adalah dalam kelalaian tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang yang zhalim.” (QS. Al-Anbiya: 96)
Ya-juj dan Ma-juj dalam Hadits Dari Zainab Binti Jahsh -isteri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun dari tidurnya dengan wajah memerah, kemudian bersabda; “Tiada Tuhan selain Allah, celakalah bagi Arab dari kejahatan yang telah dekat pada hari kiamat, (yaitu) Telah dibukanya penutup Ya-juj dan Ma-juj seperti ini!” Beliau melingkarkan jari tangannya. (Dalam riwayat lain tangannya membentuk isyarat 70 atau 90), Aku bertanya; “Ya Rasulullah, apakah kita akan dihancurkan walaupun ada orang-orang shalih?” Beliau menjawab; “Ya, Jika banyak kejelekan.” (HR. Ahmad, Al-Bukhari dan Muslim)
Jenis dan Asal Usul Ya-juj dan Ma-juj
Berdasarkan pendapat yang paling kuat, Ya-juj dan Ma-juj merupakan isim ‘Ajam dan Laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya-juj dan Ma-juj termasuk spesies manusia. Hanya saja, para ulama berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi Adam ‘alaihis salam dan Hawa atau dari Adam saja. Ada pula yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘alaihis salam dari keturunan Syis/At-Turk menurut hadits Ibnu Katsir. Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh mempunyai tiga anak, Sam, Ham, Syis/At-Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh.
Menurut Al-Maraghi, Ya-juj dan Ma-juj berasal dari satu ayah yaitu Turk. Ya-juj adalah At-Tatar (Tartar) dan Ma-juj adalah Al-Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat. Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti Raja Dunia) pada abad ke-7 H di Asia Tengah dan menaklukan Cina Timur. Ditaklukan oleh Quthbuddin Bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay. “Batu” anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukan Cina.
Saudaranya Hulako menundukan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al-Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H.
Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang banyak keturunannya. Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, tapi ini tidak berdasar.
Pada QS. Al-Kahfi:94, Ya-juj dan Ma-juj adalah kaum yang kasar dan biadab. Jika mereka melewati perkampungan, membabat semua yang menghalangi dan merusak atau bila perlu membunuh penduduk. Karenya, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.
Siapakah Dzulkarnain?
Menurut versi Barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al-Maqduny Al-Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Ia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukan Mesir.
Menurut Asy-Syaukany, pendapat di atas sulit diterima, karena hal ini mengisyaratkan ia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Al-Quran menyebutkan; “Kami (Allah) mengokohkannya di bumi dan Kami memberikan kepadanya sebab segala sesuatu.” (QS. Al-Kahfi: 84)
Menurut sejarawan muslim Dzulkarnain adalah julukan Abu Karb Al-Himyari atau Abu Bakar Bin Ifraiqisy dari daulah Al-Jumairiyah (115 SM – 552 M.). Kerajaannya disebut At-Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (Pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di Barat sampai Timur. Menurut Ibnu Abbas, ia adalah seorang raja yang shalih.
Dzulqarnain seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung antara Armenia dan Azzarbaijan, atas permintaan penduduk, Dzulkarnain membangun benteng. Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M, di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz. Timurleng pernah melewatinya, juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H. Pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. “Babul Hadid” adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India.
Benarkah Tembok Cina Adalah Tembok Zulkarnain?
Banyak orang menyangka itulah tembok yang dibuat oleh Zulkarnain dalam surat Al-Kahfi. Dan yang disebut Ya-juj dan Ma-juj adalah bangsa Mongol dari Utara yang merusak dan menghancurkan negeri-negeri yang mereka taklukkan. Mari kita cermati kelanjutan surat Al Kahfi ayat 95-98 tentang itu.
Zulkarnain memenuhi permintaan penduduk setempat untuk membuatkan tembok pembatas. Dia meminta bijih besi dicurahkan ke lembah antara dua bukit. Lalu minta api dinyalakan sampai besi mencair. Maka jadilah tembok logam yang licin tidak bisa dipanjat.
Ada tiga hal yang berbeda antara Tembok Cina dan Tembok Zulkarnain. Pertama, tembok Cina terbuat dari batu-batu besar yang disusun, bukan dari besi. Kedua, tembok itu dibangun bertahap selama ratusan tahun oleh raja-raja Dinasti Han, Ming, dan seterusnya, sambung-menyambung. Ketiga, dalam Al-Kahfi: 86, ketika bertemu dengan suatu kaum di Barat, Allah berfirman, “Wahai Zulkarnain, terserah padamu apakah akan engkau siksa kaum itu atau engkau berikan kebaikan pada mereka.” Artinya, Zulkarnain mendapat wahyu langsung dari Tuhan, sedangkan raja-raja Cina itu tidak. Maka jelaslah bahwa tembok Cina bukan yang dimaksud dalam surat Al Kahfi. Jadi di manakan tembok Zulkarnain?
Beberapa Penelitian Tembok Ya’juj
Abdullah Yusuf Ali dalam tafsir The Holy Qur’an menulis bahwa di distrik Hissar, Uzbekistan, 240 km di sebelah tenggara Bukhara, ada celah sempit di antara gunung-gunung batu. Letaknya di jalur utama antara Turkestan ke India dengan ordinat 38oN dan 67oE. Tempat itu kini bernama buzghol-khana dalam bahasa Turki, tetapi dulu nama Arabnya adalah bab al-hadid. Orang Persia menyebutnya dar-i-ahani. Orang Cina menamakannya tie-men-kuan. Semuanya bermakna pintu gerbang besi.
Hiouen Tsiang, seorang pengembara Cina pernah melewati pintu berlapis besi itu dalam perjalanannya ke India di abad ke-7. Tidak jauh dari sana ada danau yang dinamakan Iskandar Kul. Di tahun 842 Khalifah Bani Abbasiyah, al-Watsiq, mengutus sebuah tim ekspedisi ke gerbang besi tadi. Mereka masih mendapati gerbang di antara gunung selebar 137 meter dengan kolom besar di kiri kanan terbuat dari balok-balok besi yang dicor dengan cairan tembaga, tempat bergantung daun pintu raksasa. Persis seperti bunyi surat Al Kahfi. Pada Perang Dunia II, konon Winston Churchill, pemimpin Inggris, mengenali gerbang besi itu.
Letak Perkiraan Tembok Besi Berada
Apa pun tentang keberadaan dinding penutup tersebut, ia memang terbukti ada sampai sekarang di Azerbaijan dan Armenia. Tepatnya ada di pegunungan yang sangat tinggi dan sangat keras. Ia berdiri tegak seolah-olah diapit oleh dua buah tembok yang sangat tinggi. Tempat itu tercantum pada peta-peta Islam maupun Rusia, terletak di republik Georgia.
Al-Syarif al-Idrisi menegaskan hal itu melalui riwayat penelitian yang dilakukan Sallam, staf peneliti pada masa Khalifah al-Watsiq Billah (Abbasiah). Konon, Al-Watsiq pernah bermimpi tembok penghalang yang dibangun Iskandar Dzul Qarnain untuk memenjarakan Ya’juj-Ma’juj terbuka.
Mimpi itu mendorong Khalifah untuk mengetahui perihal tembok itu saat itu, juga lokasi pastinya. Al-Watsiq menginstruksikan kepada Sallam untuk mencari tahu tentang tembok itu. Saat itu Sallam ditemani 50 orang. Penelitian tersebut memakan biaya besar. Tersebut dalam Nuzhat al-Musytaq, buku geografi, karya al-Idrisi, Al-Watsiq mengeluarkan biaya 5000 dinar untuk penelitian ini.
Rombongan Sallam berangkat ke Armenia. Di situ ia menemui Ishaq bin Ismail, penguasa Armenia. Dari Armenia ia berangkat lagi ke arah utara ke daerah-daerah Rusia. Ia membawa surat dari Ishaq ke penguasa Sarir, lalu ke Raja Lan, lalu ke penguasa Faylan (nama-nama daerah ini tidak dikenal sekarang). Penguasa Faylan mengutus lima penunjuk jalan untuk membantu Sallam sampai ke pegunungan Ya’juj-Ma’juj.
27 hari Sallam mengarungi puing-puing daerah Basjarat. Ia kemudian tiba di sebuah daerah luas bertanah hitam berbau tidak enak. Selama 10 hari, Sallam melewati daerah yang menyesakkan itu. Ia kemudian tiba di wilayah berantakan, tak berpenghuni. Penunjuk jalan mengatakan kepada Sallam bahwa daerah itu adalah daerah yang dihancurkan oleh Ya’juj dan Ma’juj tempo dulu. Selama 6 hari, berjalan menuju daerah benteng. Daerah itu berpenghuni dan berada di balik gunung tempat Ya’juj-Ma’juj berada.
Sallam kemudian pergi menuju pegunungan Ya’juj-Ma-juj. Di situ ia melihat pegunungan yang terpisah lembah. Luas lembah sekitar 150 meter. Lembah ini ditutup tembok berpintu besi sekitar 50 meter.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, gambaran Sallam tentang tembok dan pintu besi itu disebutkan dengan sangat detail (Anda yang ingin tahu bentuk detailnya, silakan baca: Muzhat al-Musytaq fi Ikhtiraq al-Afaq, karya al-Syarif al-Idrisi, hal. 934 -938).
Al-Idrisi juga menceritakan bahwa menurut cerita Sallam penduduk di sekitar pegunungan biasanya memukul kunci pintu besi 3 kali dalam sehari. Setelah itu mereka menempelkan telinganya ke pintu untuk mendengarkan reaksi dari dalam pintu. Ternyata, mereka mendengar gema teriakan dari dalam. Hal itu menunjukkan bahwa di dalam pintu betul-betul ada makhluk jenis manusia yang konon Ya-juj-Ma-juj itu.
Ya’juj-Ma’juj sendiri, menurut penuturan al-Syarif al-Idrisi dalam Nuzhat al-Musytaq, adalah dua suku keturunan Sam bin Nuh. Mereka sering mengganggu, menyerbu, dan membunuh suku-suku lain. Mereka pembuat onar dan sering menghancurkan suatu daerah. Masyarakat mengadukan kelakuan suku Ya’juj dan Ma’juj kepada Iskandar Dzul Qarnain, Raja Macedonia. Iskandar kemudian menggiring (mengusir) mereka ke sebuah pegunungan, lalu menutupnya dengan tembok dan pintu besi.
Menjelang Kiamat nanti, pintu itu akan jebol. Mereka keluar dan membuat onar dunia, sampai turunnya Nabi Isa al-Masih.
Dalam Nuzhat al-Musytaq, al-Syarif al-Idrisi juga menuturkan bahwa Sallam pernah bertanya kepada penduduk sekitar pegunungan, apakah ada yang pernah melihat Ya-juj-Ma-juj. Mereka mengaku pernah melihat gerombolan orang di atas tembok penutup. Lalu angin badai bertiup melemparkan mereka. Penduduk di situ melihat tubuh mereka sangat kecil. Setelah itu, Sallam pulang melalui Taraz (Kazakhtan), kemudian Samarkand (Uzbekistan), lalu kota Ray (Iran), dan kembali ke istana al-Watsiq di Surra Man Ra’a, Iraq. Ia kemudian menceritakan dengan detail hasil penelitiannya kepada Khalifah.
Kalau menurut penuturan Ibnu Bathuthah dalam kitab Rahlat Ibn Bathuthah, pegunungan Ya’juj-Ma’juj berada sekitar perjalanan 6 hari dari Cina. Penuturan ini tidak bertentangan dengan al-Syarif al-Idrisi. Soalnya di sebelah Barat Laut Cina adalah daerah-daerah Rusia.
Ditulis oleh: Damar Dwiyadi Pratama dari artikelmenarik.wordpress.com

KHUTBAH TERAKHIR RASULULLAH S.A.W


Khutbah Terakhir Rasulullah SAW

Wahai Manusia,dengarlah baik-baik apa yang hendak ku katakan.Aku tidak mengetahui apakah aku dapat bertemu lagi dengan kamu semua selepas tahun ini.Oleh itu dengarlah dengan teliti kata-kataku dan sampaikanlah ia kepada orang-orang yang tidak dapat hadir disini pada hari ini.
Wahai manusia,sepertimana kamu menganggap bulan ini dan kota ini sebagai suci,maka anggaplah jiwa dan harta setiap orang Muslim sebagai suci. Kembalikan harta yang diamanahkan kepada kamu kepada pemiliknya yang berhak.Janganlah kamu sakiti sesiapa pun agar orang lain tidak menyakiti kamu lagi.Ingatlah bahawa sesungguhnya kamu akan menemui Tuhan kamu dan Dia pasti membuat perhitungan diatas segala amalan kamu.Allah telah mengharamkan riba,oleh itu segala urusan yang melibatkan riba dibatalkan mulai sekarang.
Berwaspadalah terhadap syaitan demi keselamatan agama kamu.Dan dia telah berputus asa untuk menyesatkan kamu dalam perkara-perkara besar,maka berjaga-jagalah supaya kamu tidak mengikuti nya dalam perkara-perkara kecil.
Wahai manusia,sebagaimana kamu mempunyai hak keatas isteri kamu ,mereka juga mempunyai hak di atas kamu.Sekiranya mereka menyempurnakan hak mereka ke atas kamu maka mereka juga berhak untuk diberi makan dan pakaian dalam suasana kasih sayang.Layanilah wanita-wanita kamu dengan baik,berlemah-lembutlah terhadap mereka kerana sesungguhnya mereka adalah teman dan pembantu yang setia.Dan hak kamu atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang kamu tidak sukai ke dalam rumah kamu dan dilarang melakukan zina.
Wahai manusia ,dengarlah bersungguh-sungguh kata-kata ku ini,Sembahlah Allah,Dirikanlah solat lima kali sehari,Berpuasalah di Bulam Ramadan dan Tunaikanlah Zakat dari harta kekayaan kamu.Kerjakanlah ibadat Haji sekiranya kamu mampu.Ketahuilah bahawa setiap Muslim adalah bersaudara kepada Muslim yang lain.Kamu semua adalah sama,tidak seorang pun yang lebih mulia dari yang lainnya kecuali dalam Taqwa dan beramal soleh.
Ingatlah,bahawa kamu akan menghadap Allah pada suatu hari untuk dipertanggungjawabkan diatas segala apa yang telah kamu kerjakan.Oleh itu Awasilah agar jangan sekali-kali terkeluar dari landasan kebenaran selepas ketiadaanku.
Wahai manusia,tidak ada lagi Nabi atau Rasul yang akan datang selepasku dan tidak akan lahir agama baru.Oleh itu wahai manusia,nilailah dengan betul dan fahamilah kata-kataku yang telah aku sampaikan kepada kamu.Sesumgguhnya aku tinggalkan kepada kamu dua perkara,yang sekiranya kamu berpegang teguh dan mengikuti kedua-duanya ,nescaya kamu tidak akan tersesat selama-lamanya.Itulah Al-Quran dan Sunnahku.
Hendaklah orang-orang yang mendengar ucapanku menyampaikan pula kepada orang lain.Semoga yang terakhir lebih memahami kata-kataku dari mereka yang terus mendengar dari ku.Saksikanlah Ya Allah bahawasanya telah aku sampaikan risalah Mu kepada hamba-hamba mu.
(Khutbah ini disampaikan oleh Rasullah s.a.w pada 9hb Zulhijjah Tahun 10 Hijrah di Lembah Uranah,Gunung Arafah.)

Jantung Bukan Hati


Pernah seorang pakar jantung bertanya saya tentang sabda Nabi s.a.w: “Ketahuilah bahawa dalam jasad ada seketul daging, apabila baik maka baiklah jasad, apabila rosak maka rosaklah jasad. Ketahuilah ia adalah hati!”. Dia bertanya saya mengapakah Nabi s.a.w menyebut ‘hati’ tidak menyebut jantung sedangkan jantung adalah organ terpenting dan penentu dalam tubuh manusia.

Saya jawab: Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim itu, Nabi s.a.w tidak pernah menyebut ‘hati’, sebaliknya menyebut al-qalb iaitu jantung. Adapun hati dalam bahasa Arab disebut kabid. Namun, malangnya dalam bahasa Melayu jantung selalu diterjemah sebagai hati. Sedangkan bahasa Inggeris menterjemah dengan betul iaitu ‘heart’ yang bermaksud jantung.

Cumanya, orang Melayu menterjemahkan ‘you are in my heart’ sebagai ‘awak dalam hatiku’ padahal hati dalam bahasa Inggeris ‘liver’ bukan ‘heart’. Namun ‘heart attack’ tetap sebagai serangan jantung, tidak pula serangan hati.
Begitu ‘heart disease’ sebagai penyakit jantung. Mungkin kerana ia berkaitan sakit, jika salah terjemah buruk padahnya. Jangan sampai doktor yang sepatutnya membedah jantung dibedahnya hati. Orang boleh derma hati dan terus hidup, namun tidak mungkin boleh derma jantung dan terus hidup.
Qalb dan Qulub
Al-Quran dan Sunnah menggunakan perkataan qalb (jantung) atau qulub (jantung-jantung) sebagai kata jamak atau plural untuk qalb. Sejak dahulu perkataan qalb difahami oleh orang Arab sebagai organ yang tergantung dalam tubuh manusia.
Dalam kamus rujukan bahasa Arab yang terpenting, iaitu Lisan al-‘Arab, pengarang Ibn Manzur (meninggal 711H) menyatakan: Al-Qalb: segumpal daging dari fuad (jantung) yang tergantung dengan urat besar tempat ia bergantung” (Ibn Manzur, Lisan al-‘Arab 1/687, Beirut: Dar al-Fikr).
Disebabkan perkembangan ilmu perubatan, maka dalam kamus Arab moden takrifan lebih terperinci. Dalam al-Mu’jam al-Wasit disebut: “al-Qalb ialah organ berotot dalaman yang menerima darah daripada salur darah dan mengepam ke arteri” (al-Mu’jam al-Wasit, 2/753).
Ini sama dengan maksud jantung dalam Kamus Dewan Bahasa: “Organ berotot yang mengepam darah ke seluruh badan” (Kamus Dewan Bahasa Edisi Ke-3, 519).
Jelas, qalb atau kata jamaknya qulub yang digunakan oleh orang Arab, demikian digunakan oleh al-Quran dan Hadis tidak merujuk kepada hati, tetapi merujuk kepada jantung. Terjemahan Inggeris lebih tepat iaitu‘heart’. Malangnya, hingga terjemahan heart dari Inggeris ke melayu juga tidak stabil kerana kadang-kadang diterjemah sebagai hati, kadang-kadang diterjemah sebagai jantung.
Kekeliruan
Kekeliruan dalam memberikan maksud qalbu atau heart ini telah menyebabkan Kamus Dewan Bahasa memberikan maksud perkataan hati yang pelbagai. Disebut dalam Kamus Dewan: “Hati: 1. organ dlm badan yg berwarna perang kemerah-merahan di dlm perut di bahagian sebelah kanan…2. = jantung.. 3. batin (tempat perasaan, pengertian)..”. (ibid, 445).
Sementara itu dalam satu artikel yang diterbitkan oleh Jurnal Bahasa DBP (Jilid 5, Bilangan 4, 2005) Imran Ho Abdullah dan Norsimah Mat Awal cuba memberikan maksud hati secara konsep dan metafora dalam bahasa Melayu. Artikel mereka itu berjudul “Pengkonsepsian dan Pemetaforaan Hati”.
Namun saya melihat, justifikasi bahasa di sudut konsep dan metafora yang cuba diberikan dan juga kepelbagaian maksud hati sehingga diterjemahkan salah satunya sebagai jantung, tetap mengelirukan bagi memahami maksud asal qalb dalam al-Quran dan Hadis.
Bahkan penyataan hati bermaksud jantung dalam bahasa Melayu itu sendiri boleh mengelirukan kerana keduanya organ yang berbeza. Apatahlagi, kajian saintifik moden benar-benar membezakan peranan antara kedua organ tersebut.
Jika pun boleh diterima, salah satu pengertian hati itu disebutkan oleh Kamus Dewan sebagai batin atau tempat perasaan. Ini hampir ada persamaan dengan maksud akal (al-‘Aql) yang sebut juga sebagai salah satu maksud qalb dalam Lisan al-‘Arab (m.s 687).
Maka perkataan qulub atau qalb dalam nas-nas Islam lebih tepat diterjemahkan sebagai jantung, atau jika hendak digunakan juga perkataan hati mungkin boleh disebut ‘jantung hati’. Sebahagian penulis atau pembicara suka menggunakan perkataan ‘kalbu’ seperti ungkapan dalam ‘dalam kalbuku ini’.
Perkataan kalbu dianggap sebagai ungkapan qalb dalam yang dimelayukan. Ya, mungkin boleh, tetapi bagi yang mengetahui bahasa Arab ia agak berat sebab kalb iaitu dengan huruf ‘kaf’ (=kalb atau kalbun) dalam Bahasa Arab bermaksud anjing. Jika dengan huruf ‘qaf ‘ (=qalb atau qalbun) barulah bermaksud jantung.
Al-Quran dan Hadis
Hari ini dengan kemajuan sains dan teknologi, begitu banyak mukjizat sains dalam al-Quran dan Hadis ditemui. Maka, menterjemah perkataan qalb atau qulub dalam kedua sumber itu dengan maksud asalnya iaitu jantung adalah suatu kemestian. Jika tidak, nanti orang Melayu gagal memahami rahsia saintifik di sebalik perkataan tersebut. Amat besar perbezaan fungsi antara jantung dan hati!
Dengan itu kita sepatutnya menukar terjemahan ayat-ayat al-Quran seperti: “dalam hati-hati mereka ada penyakit” (al-Baqarah: 10) dengan “dalam jantung-jantung mereka ada penyakit”. Begitu juga: “mereka berkata dengan mulut-mulut mereka, apa yang tiada dalam hati-hati mereka” (Ali ‘Imran: 167), diterjemahkan “…apa yang tiada dalam jantung-jantung mereka”. Begitulah seterusnya. Bahasa Inggeris telah menterjemah dengan tepat seperti “in their hearts is disease..”, “..what was not in their hearts”.
Ini bukan kerana ingin menyalahkan bahasa kita yang telah berjalan sejak sekian lama. Namun, tujuannya bagi mendekatkan kefahaman secara lebih tepat penggunaan perkataan yang dipilih oleh al-Quran dan Hadis atau dalam Bahasa Arab. Perkembangan ilmu terutamanya sains juga mengajak kita lebih teliti terhadap istilah-istilah al-Quran dan Hadis ini. Sekali lagi, jantung bukan hati!

SUKAN KEJOHANAN SEKOLAH

9 MAY 2010 (AHAD)temasya sukan sekolah berjaya dilaksanakan walaupun padang diliputi air hujan yang turun pada petang semalam.beberapa acara padang dapat deilaksanakan dengan jaya.



sekitar  di meja urusetia .........


Kamus Al-Quran Pertama Dalam Bahasa Melayu


Kamus Al-Quran Pertama Dalam Bahasa Melayu

Bismillahirrahmanirrahim.

PELBAGAI usaha dilakukan sarjana Islam bagi mengupas, dan mengkaji segala kandungan yang wujud di dalam al-Quran. Ia bertujuan supaya manusia selalu di bawah naungannya dan mendapat hidayah yang menjamin kehidupan di dunia dan akhirat. 

Antara usaha-usaha suci ini adalah melalui pentafsiran dan pentakwilan al-Quran. Ini kerana, tidak semua individu memahami dan mengetahui makna kitab suci itu.

Penerbitan Kamus al-Quran dalam bahasa Melayu adalah antara yang pertama dilakukan bagi memahami isi al-Quran. 
Dr. zulkifli mohd. Yusof pada sesi bersama penulis di PWTC, Kuala Lumpur, baru-baru ini. 


Kamus al-Quran itu diterbitkan oleh PTS Islamika Sdn. Bhd. dan mendapat sambutan ramai.

"Kami melakukan kajian selama tiga tahun untuk menyempurnakan kamus ini. Kami berjaya menggabungkan pelbagai tafsir al-Quran untuk mendapatkan makna paling tepat bagi setiap perkataan.

"Kedudukan dan jumlah perkataan dalam al-Quran juga dianalisis dengan teliti hingga membolehkan pembaca yang buta bahasa Arab memahami perbezaan ataupun persamaan pada lafaz dan ayat yang berbeza," ujar ketua panel penerbitan kamus itu, Prof. Datuk Dr. Zulkifli Mohd. Yusoff.

Beliau yang juga Pensyarah Jabatan al-Quran dan al-Hadis, Akademi Pengajian Islam, Universiti Malaya dibantu 18 ahli panel dan penyelidik.

Memandangkan ia disusun berdasarkan entri mengikut abjad, pembaca boleh menentukan entri yang ingin dikaji tanpa perlu terikat pada turutan surah atau ayat.

Pembaca hanya perlu mencari perkataan berdasarkan ejaan dalam bahasa arab.

Sebagai contoh untuk mencari makna 'adiyat pembaca perlu mencari di huruf ('ain) bukan (alif). Ini kerana indeks kamus ini mengikut huruf arab.

"Kamus al-Quran ini bukan sekadar kamus untuk menterjemah dan menerangkan maksud perkataan penting dalam al-Quran, ia sebenarnya adalah tafsir kepada perkataan itu.

"Dalam erti kata lain, ia adalah tafsir perkataan dalam al-Quran atau disebut tafsir al-Quran bertema iaitu berasaskan perkataan," kata Pengurus Penerbitan PTS Islamika Sdn. Bhd., Faris Hasbullah.

Kamus ini disyorkan untuk menambah perbendaharaan kata dan seterusnya memahami perkataan dalam al-Quran.

Juga sesuai untuk aktiviti berkumpulan bagi memahami dan mengkaji setiap perkataan dan berkongsi untuk pemahaman semua.

Lebih menarik, Kamus al-Quran ini juga boleh menjadi rujukan bagi ibu bapa untuk mencari nama kepada anak mereka.

Al-Quran adalah kalam Allah yang penuh dengan 1,001 mukjizat yang tidak dapat ditandingi. Ia adalah sumber ilmu pertama dan utama bagi umat manusia.

Kitab itu mencakupi segala apa yang diinginkan, menjelaskan segala yang samar, menyentuh semua aspek kehidupan, lengkap dan tiada satu perkara pun tertinggal daripada huraiannya.

Allah menegaskan: Tiadalah Kami alpakan sesuatu pun di dalam kitab (al-Quran) ini. (al-An'am: 38)

Tidak keterlaluan jika dikatakan, Kamus al-Quran ini membuka lembaran baru kepada umat Islam di Malaysia untuk memahami kalam Allah itu dengan lebih berkesan.

Belian secara langsung boleh dibuat di www.bookcafe.com.my.
Oleh MOHD ROSLAN MD ISA. Utusan Malaysia.

NOTA: Penulis blog ini telahpun mendapatkan Kamus al-Quran ini dengan mengirimkan kepada anak untuk membeli di PBAKL 2010 bulan Mac yang lepas selepas diskaun menggunakan kad pelajar anak dapat dibeli dengan harga yang lebih murah, jika tidak silap RM68.00 (harga sebenar RM95.00). 

Anda mungkin juga meminati:

MARI MENGENAL ULAMA








Allahyarham Syeikh Mohd Idris bin Abdul Rauf al-Marbawi adalah seorang ulamak besar yang tidak asing lagi bukan saja di Nusantara malahan di Mesir dan Makkah terutamanya dalam bidang Bahasa Arab, Ilmu Hadis, Tafsir dan Fiqah.
Beliau telah dilahirkan pada tahun 1893 dan secara tepatnya pada tahun 28 Zulkaedah 1313 Hijrah di Makkah. Setelah lama berada di Makkah, keluarganya mengambil keputusan untuk kembali ke Malaysia iaitu pada tahun 1913 bersamaan tahun 1333 Hijrah. Sekembalinya ke Tanah Melayu, Allahyarham Syeikh Mohd Idris al-Marbawi mendapat pendidikan di Sekolah Melayu Lubuk Merbau, Perak. Seterusnya beliau melanjutkan pengajian di beberapa buah sekolah pondok di Kuala Kangsar, Kedah, Bukit Mertajam dan Kelantan.

Sejak dari kecil lagi, al-Marbawi telah menunjukkan kemampuan akademiknya yang memberangsangkan. Ketika berusia sepuluh tahun, beliau telah menamatkan pengajian hafalan al-Quran. Ketika berusia 10 tahun juga, beliau telah mampu menghafaz sebanyak 10 juzuk Al Quran di samping beberapa buah kitab lain.

Kecenderungan ilmiah yang tertambat kukuh dalam jiwanya telah mendorong beliau menuntut ilmu di pondok-pondok yang merupakan institusi pendidikan Islam yang terpenting di alam Melayu pada ketika itu. Antaranya Pondok Syeikh Wan Muhammad di Bukit Chandan, Kuala Kangsar, Pondok Tuan Hussain Al-Masudi, di Kedah, Pondok Syeikh Ahmad Fatani di Bukit Mertajam dan Pondok Tok Kenali di Kelantan.
Melihat kepada kemampuan akademik dan minatnya kepada ilmu Islam, ayahanda beliau mengesyorkannya agar menyambung pengajian ke timur tengah sama ada ke Mesir ataupun kembali semula ke Mekah. Lalu, pada tahun 1924, beliau telah melanjutkan pelajaran di Universiti al-Azhar, Mesir. Beliau sempat bertugas sebagai guru agama di Perak sebelum menyambung pengajiannya ke Universiti al-Azhar.

Al-Marbawi di Mesir

Di Mesir, beliau menggondol kejayaan yang membanggakan dengan memperoleh ijazah 'Aliyah (tertinggi) dari universiti al-Azhar. Sebenarnya al-Marbawi merupakan anak kelahiran Perak yang pertama meneroka pengajian Islam di Mesir.
Sebagai angkatan pertama yang baru mengenal suasana di sana, al-Marbawi mendapati masalah komunikasi dengan bahasa Arab menjadi masalah utama dalam kalangan anak Melayu. Bermula dari sinilah timbul idea untuk menyusun sebuah kamus Arab-Melayu dan usaha tersebut telah dimulakan secara kolektif bersama lima orang lagi rakannya. Tetapi usaha tersebut terpaksa disiapkan bersendirian lantaran penarikan diri rakan-rakannya. Walaupun bersendirian, beliau tetap nekad untuk menyiapkan kamus tersebut.

Akhirnya, kamus Arab-Melayu tersebut yang terkenal sebagai 'Kamus al-Marbawi' itu, berjaya disiapkan pada tahun 1927. Kamus itu diulang cetak berpuluh-puluh kali kerana sambutan yang amat menggalakkan dalam kalangan pelajar Asia Tenggara. Kamus al-Marbawi menjadi terkenal sehingga ke hari ini. Kejayaan menyusun kamus ini telah menjadi langkah pertama kepada al-Marbawi untuk mengorak langkah seterusnya dalam penghasilan karya Islam yang lain.

Sumbangan Karya al-Marbawi

Karya-karya al-Marbawi yang dihasilkan adalah melebihi 20 buah buah dalam pelbagai disiplin ilmu Islam. Ini sekaligus membuktikan al-Marbawi dalam pengajian ilmu-ilmu Islam.Walau bagaimanapun, kemasyhurannya lebih ditonjolkan dalam dunia persuratan Arab-Melayu berbanding disiplin ilmu yang lain. Apatah lagi, beliau pernah dianugerah Ijazah Kehormatan Doktor Persuratan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia pada tahun 1980. Anugerah yang diterima ini sebagai mengenang jasa yang diberikan oleh beliau dalam bidang persuratan Arab-Melayu.

Selain kamus Arab-Melayu, al-Marbawi juga telah menghasilkan karya yang penting dalam bidang hadith. Antara tulisan beliau dalam bidang ini ialah Bahr al-Madhi yang merupakan ringkasan dan ulasan kepada sunan al-Tirmidhi. al-Marbawi juga turut menterjemahkan ke dalam bahasa Melayu kitab Bulugh al-Maram iaitu sebuah karya hadith yang disusun berdasarkan bidang Fiqh oleh seorang tokoh Hadith tersohor iaitu Ibn Hajar al-Asqalany. Dua karya dalam bidang hadith berbahasa Melayu ini ialah antara karya yang penting, sulung, dan terbesar pernah dihasilkan oleh seorang ulama’ Nusantara.
Dalam bidang Tafsir al-Quran pula, beliau telah menulis tafsir Surah Yasin, Tafsir al-Quran al-Marbawi, Tafsir al-Quran Nur al-Yakin, Terjemahan Tafsir Fath al-Qadir, Tafsir Juz Amma, Tafsir Al-Fatihah, dan sebuah karya berjudul Quran Bergantung Makna.

Selain bidang tersebut, al-Marbawi juga telah menghasilkan tulisannya dalam bidang Fiqh, Aqidah, dan Falsafah. Antara tulisan beliau ialah kitab Asas Islam, Kitab Nizam al-Hayah, Kitab Pati Hukum-hukum Ibadah, Kitab Usul Islam Pada Membicarakan Mengambil Air Sembahyang, sebuah ensiklopedia yang dinamakan sebagai Kamus Segala Ilmu, karya berjudul Punca Agama, Perbendaharaan Ilmu, dan banyak lagi. Sheikh Muhammad Idris al Marbawi telah banyak menghasilkan ulama' ternama tanahair yang mana antara muridnya yang terkenal kini adalah Prof. Dato' Dr.Haron Din

Kamus al-Marbawi dan Bahrul Mazi

Kitab yang paling tersohor yang telah dihasilkan oleh al-Marbawi ialah Kamus Arab-Melayu dan kitab Bahrul Mazi. Kedua-dua kitab ini digunakan sehingga ke hari ini. Antara keistimewaan kedua-dua hasil karya beliau ini adalah seperti berikut:-

1.Kamus al-Marbawi

Kamus ini merupakan kamus dwibahasa Bahasa Arab –Bahasa Melayu. Ia disusun dalam 2 jilid, iaitu jilid yang pertama bermula daripada huruf alif sehingga za'. Manakala jilid yang kedua bermula daripada huruf `ain sehingga ya'. Kamus ini mengandungi 18, 000 kata entri Arab dan 700 gambar. Ianya dicetak oleh Matba`ah Mustafa al-Babiy al-Halbi Wa Awladihi di Mesir. Kamus ini menjadi rujukan pelajar di Malaysia bagi setiap peringkat sama ada peringkat rendah, menengah mahu pun universiti.
2. Kitab Bahrul Mazi
Kitab Bahr al-Mazi merupakan salah satu sumbangan terpenting beliau dalam pengajian Hadith di Malaysia. Bahr al-Mazi ialah kitab hadith bertulisan jawi terbesar dan antara yang terawal pernah wujud di alam Melayu. Karya ini amat padat dan mendalam, bahkan dikatakan telah menampung kekosongan karya asli dalam bidang ilmu hadith di rantau ini. Karya ini memuatkan ulasan dan huraian hadith dalam bentuk fikah, aqidah, tasawuf, dan muamalat.


Kelainan dan keistimewaan kitab ini amat jelas, apatah lagi ulasan al-Marbawi mengikut acuan dan suasana masyarakat Malaysia. Karya ini memberikan nafas baru kepada pemahaman hadith-fiqh secara mendalam di samping mendidik masyarakat Malaysia tentang hubungan yang earat antara kedua-duanya.

Anugerah Yang Diterima Oleh al-Marbawi

Atas sumbangan dan jasanya yang besar dalam bidang keagamaan dan persuratan, maka pada tanggal 5 Julai 1980, atas usaha Prof. Dato’ Dr Haron Din, pihak senat universiti telah bersetuju agar Allahyarham dianugerahkan Ijazah Kehormat Doktor Persuratan oleh Universiti Kebangsaan Malaysia. Pada enam tahun berikutnya iaitu pada pada 1 Muharram 1408H beliau dinobatkan pula sebagai tokoh Maal Hijrah Malaysia yang pertama iaitu pada tahun 1408 Hijrah.

Tanggal 13 Oktober 1989 bersamaan 13 Rabiul Awal 1409 Hijrah telah meninggalkan kesedihan kepada rakyat Malaysia yang dahagakan ilmu dan sumbangan al-Marbawi apabila beliau telah menghembuskan nafasnya yang terakhir di Hospital Besar Ipoh pada jam 8.40 pagi. Pemergiannya pada usia 96 tahun itu telah disemadikan di pusara Kampung Lubuk Merbau, Perak